MAKALAH ILMU TASAWUF
KATA PENGANTAR
Segala
puji dan syukur Saya panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas berkat dan
rahmatNya, mungkin Saya tidak akan mampu menyelesaikan makalah ini tepat pada
waktunya. Terlantun shalawat dan salam untuk imam besar kita semua Nabi
Muhammad SAW. Rasa terima kasih juga banyak terucap kepada dosen mata kuliah
Ilmu Tasawuf. Tak lupa pula ucapan terima kasih kami berikan kepada
teman – teman yang selama ini saling membantu dan mendukung dalam pengerjaan
makalah ini. Adapun makalah kami yang berjudul
“ TASAWUF AKHLAQI”
Saya
menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih memiliki banyak kesalahan
dan kekurangan, baik dari segi isi maupun referensinya. Makalah ini jauh dari
kesempurnaan, karena itu Saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar
Saya dapat menyusun makalah yang lebih baik lagi di masa yang akan datang. Atas
semua kesalahannya kami mengucapkan mohon maaf yang sebesar – besarnya. Semoga
makalah dapat berguna baik bagi kami sebagai penulis maupun bagi pembaca.
Langsa, 4 Juni 2013
Putri Andria Kasih
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam
mendekatkan diri kepada Allah, diperlukan akhlak akhlak terpuji terlebih dahulu
karena ilmu tasawuf adalah cara untuk mendekatkan diri kepada Allah sedekat
dekat mungkin. Namun kebanyakan sekarang ini banyak sekali penulis melihat
orang yang berakhlak mazmumah (tercela). Jadi untuk itu hal utama yang harus
dilakukan adalah dengan memperbaiki akhlaknya terlebih dahulu, melalui beberapa
tahapan tahapan yang akan penulis uraikan nanti di bab selanjutnya.
B. Rumusan Masalah
·
Apa defenisi
tasawuf akhlaki ?
·
Apa saja
metode-metode tasawuf akhlaki ?
·
Apa saja prinsip
prinsip tasawuf akhlaki ?
·
Siapa saja tokoh
tokoh tasawuf akhlaki ?
·
Apa manfaat
mempelajari tasawuf akhlaki ?
C. Tujuan Rumusan Masalah
·
Menjelaskan
defenisi tasawuf akhlaki
·
Menjelaskan
metode metode tasawuf akhlaki
·
Menjelaskan
prinsip prinsip tasawuf akhlaki
·
Memberikan
contoh contoh para tokoh tasawuf akhlaki beserta ajarannya.
·
Dan menjelaskan
manfaat mempelajari ilmu tasawuf akhlaki.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Defenisi Tasawuf akhlaqi
Akhlak menurut bahasa berarti tingkah laku, perangai
atau tabi’at. Sedangkan menurut istilah adalah pengetahuan yang menjelaskan
tentang baik dan buruk. Mengatur pergaulan manusia, dan menetukan tujuan akhir
usaha dan pekerjaan.[1]
Sedangkan tasawuf ialah merupakan berasal dari bahasa arab yaitu :
shufa-yashufa-shafa artinya mempunyai bulu banyak. Kemudian kata itu terjadi
perubahan kata kepada mazid (tambahan) 2 huruf
“TA” dan tasdid waw, sehingga menjadi : tashufa-yashufa-tashufa. Yang
artinya menjadi sufi.[2]
Secara umum tasawuf akhlaqi ialaj mendekatkan diri
kepada Allah dengan cara membersikan diri dari perbuatan perbuatan yang tercela
dan menghiasi diri dengan perbuatan terpuji. Dengan demikian dalam proses
pencapaian tasawuf seseorang harus terlebih dahulu berakhlak mulia.[3]
B. Metode metode Pendekatan Tasawuf Akhlaqi
Pendekatan pendekatan
yang digunakan dalam mempelajari tasawuf akhlaki ialah terdiri dari :
1. Takhalli
Yaitu merupakan langkah pertama yang harus dijalani
oleh orang sufi
2. Tahalli
Tahlili adalah upaya atau menghias diri dengan jalan
membiasakan diri dengan sikap, perilaku, dan akhlaq terpuji. Sikap mental dan
perbuatan baik yang sangat penting
diisikan kedalam jiwa manusia dan dibiasakan dalam perbuatan salam rangka
pembentukan manusia paripurna, antara lain sebagai berikut :
·
Tobat
·
Cemas dan harap
(Khauf dan Raja’)
·
Zuhud
·
Al-faqr
·
Ash-Shabru
·
Rida
·
Muqarabah
·
Tajalli
Kata tajali bermakna terungkapnya nur gaib. Agar
hasil yang diperoleh jiwa dan organ-organ tubuh yang telah berisi dengan butir
butir mutiara akhlaq dan terbiasa melakukan perbuatan luhur tidak berkurang,
rasa ketuhan perlu dihayati lebih lanjut.[4]
Menurut Harun Nasution, ketika mempealajari tasawuf
ternyata pula bahwa al-qur’an dan hadis mementingkan akhlak. Karen al-qur’an
dan hadis mementingkan nilai-nilai kejuuran, kesetiakwanan, persaudaraan, rasa
kesosialan, keadilan, tolong menolong, murah hati, suka member maaf, sabar,
baik sangka, berani, kesucian, hemat, menepati janji, disiplin, mencintai ilmu,
dan berpikiran luas. Nilai serupa ini harus dimiliki olej seorang muslim dan di
masukan kedalam dirinya semasa ia kecil. Dalam tasawuf diketahui masalah ibadah
seperti : shalat, puasa, zakat, haji, zikir, dll. Semua itu dilakukan dalam
rangka mendekatkan diri kepada Allah. Dan ibadah tersebut berhubungan dengan
akhlak. Ibada didalam al-qur’an dikaitkan dengan takwa dan takwa berarti
melaksanakan perintah Tuhan dan meninggalkan larangan Tuhan. Inilah yang
dimaksud dengan amar ma’ruf dan nahi mungkar.[5]
Ilmu akhlak secara tidak langsung tidak dapat dipisahkan
oleh ilmu lainnya karena ilmu kahlak sendiri adalah merupakan kajian filsafat.
Filsafat sebgai asal mulanya ilmu, maka ia tidak dapat terpisahkan dengan
cabang cabang ilmu lain.(H.A.Mustafa,2007:21-23). Misalkan :
·
Ahklak dengan
sosiologi
·
Akhlak dengan
ilmu hukum
·
Akhlak dengan
akidah
Akhlak yang
diperintahkan dan akhlak yang dilarang secara garis besar ada 2 yaitu :
·
Sifat terpuji
(mahmudah) yang merupakan harus dilaksanakan oleh setiap muslim
Dalam kajian islam disebutkan bahwa, ada sejumlah
sifat mahmuadah (terpuji) yang sebenarnya dipahami. Dilaksanakan dan dihayati
dalam kehidupan sehari-hari karena sifat itu merupakan ajaran islam bahwa sifat
terpuji itu menjadi salah satu indentitas keberimanan seseorang, karena salah
satu misi diutusnya Rasulullah kepada manusia adalah untuk memperbaiki akhlak
mereka. Dalam artian bahwa seseorang mengamalkan akhlak terpuji, berarti
mengamalkan ajaran islam secara baik dan orang itu ingin menyempurnakan
islamnya.
Dialah hal ini juga diketahui bahwa baiknya akhlak
seorang pada zahirnya, bukan bermakna sikap itu dibuat buat, sementara hatinya
tidak demikia. Tetapi akhlak yang dimaksud adalah munculnya dari hati yang
tulus, tidak merasa terpaksa atau juga bukan karena sesuatu balasan atau karena
takut atasan. Kalau akhlak merupakan sikap lahir manusia, namun pada hakikatnya
adalah juga tidak terlepas dari kemauan dan ketulusan dari hati. Ini merupakan
salah satu aspek hubungan akhlak sebahai sikap lahir, sedangkan cara batin
sikap itu didorong oleh hati yang suci. Adapun sifat sifat yang dimaksud adalah
sifat yang telah diuraikan seperti diatas.[6]
·
Sifat tercela
(mazmumah) yang merupakan akhlak yang harus di jauhi di kehidupan.
Akhlak mazmumah adalah akhlak yang seharusnya
dijauhi oleh setiap muslim. Dalam islam ada sejumlah sifat tercela yang
merupakan lawan dari sifat-sifat terpuji diatas, termasuk dalam kelompok orang
yang tidak sempurna imannya.[7]
C. Prinsip-prinsip Tasawuf Akhaqi
Adapun prinsip prinsip tasawuf akhlaqi
ialah :
Tasawuf sunni (akhlaqi) yaitu tasawuf yang
benar benar mengikuti Al-Qur’an dan sunnah, terikat, bersumber, tidak keluar
dari batasan batasan keduanya, mengontrol perilaku, lintasan hati serta
pengetahuan dengan neraca keduanya. Sebagaimana ungkapan Abu Qasim Junaidi
al-Bagdadi: “Mazhab kami terikat dengan dasar dasar Al-Qur’an dan sunnah” .
perkataannya lagi “ barang siapa yang tidak hafal (memahami) al-qur’an dan
tidak menulis tasawuf ini diperankan oleh kaum sufi yang mu’tadil (moderat)
dalam pendapat-pendapatnya, mereka mengikuti antara tasawuf mereka dan
al-qur’an serta sunnah dengan bentuk
yang jelas. Boleh dinilai bahwa mereka adalah orang orang yang mengikat antara
tasawuf mereka dan al-qur’an serta sunnah dengan bentuk yang jelas. Boleh
dinilai bahwa mereka adalah orang- orang
D. Tokoh tokoh Tasawuf Akhlaqi.
Tasawuf Sunni (akhlaki)
yaitu tasawuf yang benar-benar mengikuti Al-qur’an dan Sunnah, terikat,
bersumber, tidak keluar dari batasan-batasan keduanya, mengontrol prilaku,
lintasan hati serta pengetahuan dengan neraca keduanya. Sebagaimana ungkapan
Abu Qosim Junaidi al-Bagdadi: “Mazhab kami ini terikat dengan dasar-dasar
Al-qur’an dan Sunnah”, perkataannya lagi: “Barang siapa yang tidak hafal
(memahami) Al-qur’an dan tidak menulis (memahami) Hadits maka orang itu tidak
bisa dijadikan qudwah dalam perkara (tarbiyah tasawuf) ini, karena ilmu kita
ini terikat dengan Al-Qur’an dan Sunnah.”. Tasawuf ini diperankan oleh kaum
sufi yang mu’tadil (moderat) dalam pendapat-pendatnya, mereka mengikat antara
tasawuf mereka dan Al-qur’an serta Sunnah dengan bentuk yang jelas. Boleh
dinilai bahwa mereka adalah orang-orang yang senantiasa menimbang tasawuf
mereka dengan neraca Syari’ah.
Tasawuf ini berawal dari
zuhud, kemudian tasawuf dan berakhir pada akhlak. Mereka adalah sebagian sufi
abad kedua, atau pertengahan abad kedua, dan setelahnya sampai abad keempat
hijriyah. Dan personal seperti Hasan Al-Bashri, Imam Abu Hanifa, al-Junaidi
al-Bagdadi, al-Qusyairi, as-Sarri as-Saqeti, al-Harowi, adalah merupakan
tokoh-tokoh sufi utama abad ini yang berjalan sesuai dengan tasawuf sunni.
Kemudian pada pertengahan abad kelima hijriyah imam Ghozali membentuknya ke
dalam format atau konsep yang sempurna, kemudian diikuti oleh pembesar syekh
Toriqoh. Akhirnya menjadi salah satu metode tarbiyah ruhiyah Ahli Sunnah wal
jamaah. Dan tasawuf tersebut menjadi sebuah ilmu yang menimpali kaidah-kaidah
praktis.
Tasawuf ini juga
dinamakan tasawuf nazhari (teori), demikian, karena tasawuf Islam terbagi
kepada nazhari dan amali (praktek). Dan hal ini tidak berarti bahwa tasawuf
nazhori ini kosong dari sisi praktis. Istilah teori ini hanya melambangkan
bahwa tasawuf belum menjadi bentuk thoreqoh (tarbiyah kolekltif) secara
terorganisir seperti toreqoh yang terjadi sekarang ini.
a.
Al-Qusyairi An-Naisabury[8]
Dialah Imam Al-Qusyary
an-Naisabury, tokoh sufi yang hidup pada abad kelima hijriah. Tepatnya pada
masa pemerintahan Bani Saljuk. Nama lengkapnya adalah Abdul Karim al-Qusyairy,
nasabnya Abdul Karim ibn Hawazin ibn Abdul Malik ibn Thalhah ibnu Muhammad. Ia
lahir di Astawa pada Bulan Rabiul Awal tahun 376 H atau 986 M.
Sedikit sekali informasi
penulis dapat yang menerangkan tentang masa kecilnya. Namun yang jelas, dia
lahir sebagai yatim. Bapaknya meninggal dunia saat usianya masih kecil.
Sepeninggal bapaknya, tanggungjawab pendidikan diserahkan pada Abu al-Qosim
al-Yamany. Ketika beranjak dewasa, Al-Qusyairy melangkahkan kaki meninggalkan
tanah kelahiran menuju Naisabur, yang saat itu menjadi Ibukota Khurasan. Pada
awalnya, kepergiannya ke Naisabur untuk mempelajari matematika. Hal ini
dilakukan karena Al-Qusyairy merasa terpanggil menyaksikan penderitaan
masyarakatnya, yang dibebani biaya pajak tinggi oleh penguasa saat itu. Dengan
mempelajari matematika, ia berharap, dapat menjadi petugas penarik pajak dan
meringankan kesulitan masyarakat saat itu.
Naisabur merupakan kota
yang menyimpan peluang besar untuk perkembangan berbagai macam disiplin ilmu,
karena banyak kaum intelektual yang hidup disana. Di kota inilah, untuk pertama
kalinya Al-Qusyairy bertemu bertemu Sheikh Abu ‘Ali Hasan ibn ‘Ali
an-Naisabury, yang lebih dikenal dengan panggilan Ad-Daqqaq. Pertemuan itu
menyisakan kekaguman Al-Qusyairy pada peryataan-pernyataan Ad-Daqqaq. Perlahan,
keinginannya mempelajari matermatika pun hilang. Ia pun memilih jalan tarekat
dengan belajar dari Ad-Daqqaq. Berawal dari sinilah, Al-Qusyairy mengenal
Tasawuf. Al-Daqqaq merupakan guru pertama Al-Qusyairy dalam bidang Tasawuf.
Dari ia pula Al-Qusyairy mempelajari banyak hal, tidak hanya terbatas Tasawuf,
tetapi juga ilmu-ilmu keislaman yang lain. Al-Qusyairy mampu memahami dengan
baik semua pengetahuan yang diajarkan gurunya. Dari sinilah Ad-Daqqaq menyadari
kemampuan intelektual Al-Qusyairy. Mungkin, hal ini menjadi salah satu faktor
yang mendorong inisiatif Ad-Daqqaq untuk menikahkan putrinya, Fatimah dengan
Al-Qusyairy.
Pernikahan ini
berlangsung pada antara tahun 405 – 412 H/1014 – 1021 M. Fatimah merupakan
wanita ahli sastra dan tekun beribadah. Dari pernikahan ini, lahirlah enam
putera dan satu puteri, yaitu; Abu Said Abdullah, Abu Said Abdul Wahid, Abu
Mansyur Abdurrahman, Abu Nashr Abdurrahim, Abu Fath Ubaidillah, Abu Muzaffar
Abdul Mun’im dan putri Amatul Karim.
Disamping berguru pada
mertuanya, Imam Al-Qusyairy juga berguru pada para ulama lain. Diantaranya, Abu
Abdurrahman Muhammad ibn al-Husain (325-412 H/936-1021 M), seorang sufi,
penulis dan sejarawan. Al-Qusyairy juga belajar fiqh pada Abu Bakr Muhammad ibn
Abu Bakr at-Thusy (385-460 H/995-1067 M, belajar Ilmu Kalam dari Abu Bakr
Muhammad ibn al-Husain, seorang ulama ahli Ushul Fiqh. Ia juga belajar
Ushuluddin pada Abu Ishaq Ibrahim ibn Muhammad, ulama ahli Fiqh dan Ushul Fiqh.
Al-Qusyairy pun belajar Fiqh pada Abu Abbas ibn Syuraih, serta mempelajari Fiqh
Mazhab Syafi’i pada Abu Mansyur Abdul Qohir ibn Muhammad al-Ashfarayain.
Al-Qusyairy banyak
menelaah karya-karya al-Baqillani, dari sini ia menguasai doktrin Ahlusunnah
wal Jama’ah yang dikembangkan Abu Hasan al-Asy’ary (w.935 M) dan para
pengikutnya. Karena itu tidak mengherankan, kalau Kitab Risalatul Qusyairiyah
yang merupakan karya monumentalnya dalam bidang Tasawuf -dan sering disebut
sebagai salah satu referensi utama Tasawuf yang bercorak Sunni-, Al-Qusyairy
cenderung mengembalikan Tasawuf ke dalam landasan Ahlusunnah Wal Jama’ah. Dia
juga penentang keras doktrin-doktri aliran Mu’tazilah, Karamiyah, Mujassamah
dan Syi’ah. Karena tindakannya itu, Al-Qusyairy pernah mendekam dalam penjara
selama sebulan lebih, atas perintah Taghrul Bek, karena hasutan seorang menteri
yang beraliran Mu’tazilah yaitu Abu Nasr Muhammad ibn Mansyur al-Kunduri
Perburuan terhadap para
pemuka aliran Asy’ariyah itu berhenti dengan wafatnya Taghrul Bek pada tahun
1063 M. Penggantinya, Alp Arsalen (1063-1092 M), kemudian mengangkat Nizam
al-Mulk sebagai pengganti al-Khunduri. Kritik Terhadap Para Sufi Dr. Abu
al-Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani, Guru Besar Filsafat Islam dan Tasawuf pada
Universitas Kairo, yang juga tokoh dan Ketua Perhimpunan Sufi Mesir (Robithah
al-Shufihiyah al-Mishriyah) menulis, Imam Al-Qusyairy mengkritik para sufi aliran
Syathahi yang mengungkapkan ungkapan-ungkapan penuh kesan tentang terjadinya
Hulul (penyatuan) antara sifat-sifat kemanusiaan, khususnya sifat-sifat
barunya, dengan Tuhan. Al-Qusyairy juga mengkritik kebiasaan para sufi pada
masanya yang selalu mengenakan pakaian layaknya orang miskin. Ia menekankan
kesehatan batin dengan perpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Hal ini lebih
disukainya daripada penampilan lahiriah yang memberi kesan zuhud, tapi hatinya
tidak demikian. (lihat, Dr. Abu al-Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani, Madkhal ilaa
al-Tasawwuf al-Islam, cetakan ke-IV. Terbitan Dar al-Tsaqofah li an-Nasyr wa
al-Tauzi, Kairo, 1983)
Dari sini dapat
dipahami, Al-Qusyairy tidak mengharamkan kesenangan dunia, selama hal itu tidak
memalingkan manusia dari mengingat Allah. Beliau tidak sependapat dengan para
sufi yang mengharamkan sesuatu yang sebenarnya tidak diharamkan agama. Karena
itu Al-Qusyairy menyatakan, penulisan karya monumentalnya Risalatul
Qusyairiyah, termotinasi karena dirinya merasa sedih melihat persoalan yang
menimpah dunia Tasawwuf. Namun dia tidak bermaksud menjelek-jelekkan seorang
pun para sufi ketika itu. Penulisan Risalah hanya sekadar pengobat keluhan atas
persoalan yang menimpa dunia Tasawuf kala itu.
Imam Al-Qusyairy
merupakan ulama yang ahli dalam banyak disiplin ilmu yang berkembang pada
masanya, hal ini terlihat dari karya-karya beliau, seperti yang tercantum pada
pembukaan Kitabnya Risalatul Qusyairiyah.
Karya-karya itu adalah;
Ahkaamu as-Syariah, kitab yang membahas masalah-masalah Fiqh, Adaabu
as-Shufiyyah, tentang Tasawuf, al-Arbauuna fil Hadis, kitab ini berisi 40 buah
hadis yang sanadnya tersambung dari gurunya Abi Ali Ad-Daqqaq ke Rasulullah.
Karya lainnya adalah; Kitab Istifaadatul Muraadaats, Kitab Bulghatul Maqaashid
fii al-Tasawwuf, Kitab at-Tahbir fii Tadzkir, Kitab Tartiibu as-Suluuki fii
Tariqillahi Ta’ala yang merupakan kumpulan makalah beliau tentang Tasawwuf,
Kitab At-Tauhidu an-Nabawi, Kitab At-Taisir fi ‘Ulumi at-Tafsir atau lebih
dikenal dengan al-Tafsir al-Kabir. Ini merupakan buku pertama yang ia tulis,
yang penyusunannya selesai pada tahun 410 H/1019 M. Menurut Tajuddin as-Syubkhi
dan Jalaluddin as-Suyuthi, tafsir tersebut merupakan kitab tafsir terbaik dan
terjelas
Menurut Syuja’al-Hazaly,
Imam Al-Qusyairy menutup usia di Naisabur pada pagi Hari Ahad, tanggal 16
Rabiul Awal 465 H/ 1073 M, dalam usia 87 tahun. Dikisahkan bahwa beliau
mempunyai seekor kuda yang telah mengabdi padanya selama selama 20 tahun. Pada
saat Al-Qusyairy wafat, kuda itu sangat sedih dan tidak mau makan selama dua
minggu, hingga akhirnya ikut mati. Setelah Al-Qusyairy wafat, tak ada seorang
pun yang berani memasuki perpustakaan pribadinya selama beberapa tahun. Hal ini
dilakukan sebagai bentuk penghormatan bagi al-Imam Radiyallah Ta’ala ‘Anhu. Wallahu
a’lam bi al-Showab.
b.
Hasan Al-Bashari (21-110 H)
Beliau adalah seorang zahid yang termashur
dikalangan tabi’in beliau digelari dengan Abu Su’id. Ajaran pokoknya adalah
zuhud berpola hidup khuf dan raja’
c.
Al-Ghazali (450-550 H)
Nama lengkapnya ialah Abu Hamid Muhammad Bin
Muhammad Bin Ahmad Al-Ghazali. Beliau adalah penemu teori ma’rifah (hadral
rabubiyah) dan pelopor tasawuf sunni bergelar Hujjatul Islam. Ajaran tasawuf
Al-Ghazali ialah : Ma’rifat dan As-saddah.
d.
Al- Muhasibi (165-243 H)
Nama lengkapnya ialah Abu Abdullah Al-Haris Bin
Asyid Al-Muhasibi beliau adalah pencipta teori Al-Muhasabah dan Muraqabah.
E. Manfaat Mempelajari Tasawuf Akhlaqi
Adapun manfaat dalam
mempelajari tasawuf akhlaki sebagai berikut :
1. Seseorang akan dapat memperoleh posisi baik didalam
masyarakat.
2. Akan disenangi orang dalam pergaulan.
3. Akan terhindar dari hukuman yang sifatnya manusiawi
dan sebagai makhluk yang diciptakan Allah.
4. Orang yang bertakwa dan berakhlak akan mendapatkan
pertolongan dan kemudahan dalam memperoleh keluruhan kehidupan dan sebutan yang
baik dalam masyarakat. Jasa seseorang yangberakhlak mendapatkan perlindungan
dari segala penderitaan dan kesukaran hidup.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
A.
Ajaran Tasawuf
Akhlaqi
Bagian terpenting dari
tujuian tasawuf adalah memperoleh hubungan langsung dengan Tuhan, sehingga
merasa sadar berada di “hadirat” Tuhan. Semua sufi berpendapat bahwa
satu-satunya jalan yang dapat menghantarkan seseorang kepada kehadirat Allah
hanyalah dengan kesucian jiwa. Para sufi berpendapat bahwa untuk merehabilitas
sikap mental tidak baim diperlukan terapi yang tidak hanya dari aspek lahiriah
Dan tasawuf akhlaqi,
system pembinaan akhlaq disusun oleh beberapa metode yaitu sebagai berikut :
1. Takhalli (mengosongkan diri dari dari akhlak yang
buruk)
2. Tajalli (terbukanya dinding diri akhlak yang buruk)
3. Tahalli ( menghiasi diri dengan akhlak terpuji)
B.
Tasawuf Akhlaqi
dan Karakteristiknya
Adapun cirri-ciri
tasawuf aklaqi :
·
Melandaskan diri
pada Al-qur’an dan sunnah
·
Tidak
menggunakan terminologi filsafat
sebagaimana terdapat pada ungkapan ungkapan lain.
·
Lebih bersifat
mengajar dualism dalam hubungan manusia dengan manusia
·
Kesianbungan
syariat lebih terkontrentrasi pada soal pembinaan, pendidikan akhlaq dan
pengobatan jiwa dengan riyadhah (latihan mental) dan langkah takhlili, tahalli
dan tajali
C.
Tokoh – tokoh
Tasawuf Akhlaqi
·
Hasan Al-Basri
(21-110 H)
·
AL-Muhasibi
(165-243H)
·
Al-Qusyairi
(376-465H)
·
Al-Ghazali
(450-505H)
Ajaran tasawuf Al-Ghazali :
-
Ma’rifat
-
As-Sa’adah
DAFTAR PUSTAKA
·
Nata M.A,Prof.
Dr.H, Abudin. Ilmu Tasawuf.Jakarta : Rajawali Pers.
·
Damanhuri.Akhlak
Tasawuf.Banda Aceh : Pena.2010
·
Damanhuri.Akhlak Tasawuf.Banda Aceh : Pena.2005,cet.
Pertama
·
Tim
Redaksi Departemen Pendidikan Nasional. Ensiklopedi Islam. cet. Kesepuluh,
Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, 2002.
·
Nata M.A, Prof. Dr. H.
Abudin, Akhlak Tasawuf, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2003, cet. Kelima
[1]
Basher,Damanhuri.Ilmu Tasawuf.(Banda
Aceh: Pena.2005).hlm.155
[2]
Ibid.op.ct.hlm.1
[3]
Nata,Abudin.Akhlak Tasawuf.(Jakarta:
Rajawali Pers.)hlm.18
[4]
Ibid.op.ct.hlm.18
[5]
Ibid.op.ct.hlm.19
[6]
Damanhuri.Akhlak Tasawuf.(Banda Aceh:
Pena.2010)hlm.182-184
[7]
Ibid.op.ct.hlm.202-20
[8] Tim
Redaksi Departemen Pendidikan Nasional. Ensiklopedi Islam. cet. Kesepuluh,
Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, 2002. Hal. 35
2 comments:
makasih gan sangat membantu untuk pembuatan presentasi tasawuf akhlaki
succes.........
Post a Comment