Tuesday, 4 June 2013

TASAWUF AKHLAQI


MAKALAH ILMU TASAWUF 



KATA PENGANTAR


Segala puji dan syukur Saya panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas berkat dan rahmatNya, mungkin Saya tidak akan mampu menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Terlantun shalawat dan salam untuk imam besar kita semua Nabi Muhammad SAW. Rasa terima kasih juga banyak terucap kepada dosen mata kuliah Ilmu Tasawuf. Tak lupa pula ucapan terima kasih kami berikan kepada teman – teman yang selama ini saling membantu dan mendukung dalam pengerjaan makalah ini. Adapun makalah kami yang berjudul
TASAWUF AKHLAQI
Saya menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih memiliki banyak kesalahan dan kekurangan, baik dari segi isi maupun referensinya. Makalah ini jauh dari kesempurnaan, karena itu Saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar Saya dapat menyusun makalah yang lebih baik lagi di masa yang akan datang. Atas semua kesalahannya kami mengucapkan mohon maaf yang sebesar – besarnya. Semoga makalah dapat berguna baik bagi kami sebagai penulis maupun bagi pembaca.


Langsa, 4 Juni 2013


Putri Andria Kasih





BAB I

PENDAHULUAN



A.    Latar Belakang

Dalam mendekatkan diri kepada Allah, diperlukan akhlak akhlak terpuji terlebih dahulu karena ilmu tasawuf adalah cara untuk mendekatkan diri kepada Allah sedekat dekat mungkin. Namun kebanyakan sekarang ini banyak sekali penulis melihat orang yang berakhlak mazmumah (tercela). Jadi untuk itu hal utama yang harus dilakukan adalah dengan memperbaiki akhlaknya terlebih dahulu, melalui beberapa tahapan tahapan yang akan penulis uraikan nanti di bab selanjutnya.

B.     Rumusan Masalah

·         Apa defenisi tasawuf akhlaki ?
·         Apa saja metode-metode tasawuf akhlaki ?
·         Apa saja prinsip prinsip tasawuf akhlaki ?
·         Siapa saja tokoh tokoh tasawuf akhlaki ?
·         Apa manfaat mempelajari tasawuf akhlaki ?

C.     Tujuan Rumusan Masalah

·         Menjelaskan defenisi tasawuf akhlaki
·         Menjelaskan metode metode tasawuf akhlaki
·         Menjelaskan prinsip prinsip tasawuf akhlaki
·         Memberikan contoh contoh para tokoh tasawuf akhlaki beserta ajarannya.
·         Dan menjelaskan manfaat mempelajari ilmu tasawuf akhlaki.











BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Defenisi Tasawuf akhlaqi

Akhlak menurut bahasa berarti tingkah laku, perangai atau tabi’at. Sedangkan menurut istilah adalah pengetahuan yang menjelaskan tentang baik dan buruk. Mengatur pergaulan manusia, dan menetukan tujuan akhir usaha dan pekerjaan.[1] Sedangkan tasawuf ialah merupakan berasal dari bahasa arab yaitu : shufa-yashufa-shafa artinya mempunyai bulu banyak. Kemudian kata itu terjadi perubahan kata kepada mazid (tambahan) 2 huruf  “TA” dan tasdid waw, sehingga menjadi : tashufa-yashufa-tashufa. Yang artinya menjadi sufi.[2]
Secara umum tasawuf akhlaqi ialaj mendekatkan diri kepada Allah dengan cara membersikan diri dari perbuatan perbuatan yang tercela dan menghiasi diri dengan perbuatan terpuji. Dengan demikian dalam proses pencapaian tasawuf seseorang harus terlebih dahulu berakhlak mulia.[3]

B.     Metode metode Pendekatan Tasawuf Akhlaqi


Pendekatan pendekatan yang digunakan dalam mempelajari tasawuf akhlaki ialah terdiri dari :
1.      Takhalli
Yaitu merupakan langkah pertama yang harus dijalani oleh orang sufi
2.      Tahalli
Tahlili adalah upaya atau menghias diri dengan jalan membiasakan diri dengan sikap, perilaku, dan akhlaq terpuji. Sikap mental dan perbuatan baik yang sangat penting  diisikan kedalam jiwa manusia dan dibiasakan dalam perbuatan salam rangka pembentukan manusia paripurna, antara lain sebagai berikut :
·         Tobat
·         Cemas dan harap (Khauf dan Raja’)
·         Zuhud
·         Al-faqr
·         Ash-Shabru
·         Rida
·         Muqarabah
·         Tajalli
Kata tajali bermakna terungkapnya nur gaib. Agar hasil yang diperoleh jiwa dan organ-organ tubuh yang telah berisi dengan butir butir mutiara akhlaq dan terbiasa melakukan perbuatan luhur tidak berkurang, rasa ketuhan perlu dihayati lebih lanjut.[4]
Menurut Harun Nasution, ketika mempealajari tasawuf ternyata pula bahwa al-qur’an dan hadis mementingkan akhlak. Karen al-qur’an dan hadis mementingkan nilai-nilai kejuuran, kesetiakwanan, persaudaraan, rasa kesosialan, keadilan, tolong menolong, murah hati, suka member maaf, sabar, baik sangka, berani, kesucian, hemat, menepati janji, disiplin, mencintai ilmu, dan berpikiran luas. Nilai serupa ini harus dimiliki olej seorang muslim dan di masukan kedalam dirinya semasa ia kecil. Dalam tasawuf diketahui masalah ibadah seperti : shalat, puasa, zakat, haji, zikir, dll. Semua itu dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Dan ibadah tersebut berhubungan dengan akhlak. Ibada didalam al-qur’an dikaitkan dengan takwa dan takwa berarti melaksanakan perintah Tuhan dan meninggalkan larangan Tuhan. Inilah yang dimaksud dengan amar ma’ruf dan nahi mungkar.[5]
Ilmu akhlak secara tidak langsung tidak dapat dipisahkan oleh ilmu lainnya karena ilmu kahlak sendiri adalah merupakan kajian filsafat. Filsafat sebgai asal mulanya ilmu, maka ia tidak dapat terpisahkan dengan cabang cabang ilmu lain.(H.A.Mustafa,2007:21-23). Misalkan :
·         Ahklak dengan sosiologi
·         Akhlak dengan ilmu hukum
·         Akhlak dengan akidah
Akhlak yang diperintahkan dan akhlak yang dilarang secara garis besar ada 2 yaitu :
·         Sifat terpuji (mahmudah) yang merupakan harus dilaksanakan oleh setiap muslim
Dalam kajian islam disebutkan bahwa, ada sejumlah sifat mahmuadah (terpuji) yang sebenarnya dipahami. Dilaksanakan dan dihayati dalam kehidupan sehari-hari karena sifat itu merupakan ajaran islam bahwa sifat terpuji itu menjadi salah satu indentitas keberimanan seseorang, karena salah satu misi diutusnya Rasulullah kepada manusia adalah untuk memperbaiki akhlak mereka. Dalam artian bahwa seseorang mengamalkan akhlak terpuji, berarti mengamalkan ajaran islam secara baik dan orang itu ingin menyempurnakan islamnya.
Dialah hal ini juga diketahui bahwa baiknya akhlak seorang pada zahirnya, bukan bermakna sikap itu dibuat buat, sementara hatinya tidak demikia. Tetapi akhlak yang dimaksud adalah munculnya dari hati yang tulus, tidak merasa terpaksa atau juga bukan karena sesuatu balasan atau karena takut atasan. Kalau akhlak merupakan sikap lahir manusia, namun pada hakikatnya adalah juga tidak terlepas dari kemauan dan ketulusan dari hati. Ini merupakan salah satu aspek hubungan akhlak sebahai sikap lahir, sedangkan cara batin sikap itu didorong oleh hati yang suci. Adapun sifat sifat yang dimaksud adalah sifat yang telah diuraikan seperti diatas.[6]
·         Sifat tercela (mazmumah) yang merupakan akhlak yang harus di jauhi di kehidupan.
Akhlak mazmumah adalah akhlak yang seharusnya dijauhi oleh setiap muslim. Dalam islam ada sejumlah sifat tercela yang merupakan lawan dari sifat-sifat terpuji diatas, termasuk dalam kelompok orang yang tidak sempurna imannya.[7]


C.     Prinsip-prinsip Tasawuf Akhaqi


Adapun prinsip prinsip tasawuf akhlaqi ialah :
Tasawuf sunni (akhlaqi) yaitu tasawuf yang benar benar mengikuti Al-Qur’an dan sunnah, terikat, bersumber, tidak keluar dari batasan batasan keduanya, mengontrol perilaku, lintasan hati serta pengetahuan dengan neraca keduanya. Sebagaimana ungkapan Abu Qasim Junaidi al-Bagdadi: “Mazhab kami terikat dengan dasar dasar Al-Qur’an dan sunnah” . perkataannya lagi “ barang siapa yang tidak hafal (memahami) al-qur’an dan tidak menulis tasawuf ini diperankan oleh kaum sufi yang mu’tadil (moderat) dalam pendapat-pendapatnya, mereka mengikuti antara tasawuf mereka dan al-qur’an serta sunnah  dengan bentuk yang jelas. Boleh dinilai bahwa mereka adalah orang orang yang mengikat antara tasawuf mereka dan al-qur’an serta sunnah dengan bentuk yang jelas. Boleh dinilai bahwa mereka adalah orang- orang

D.    Tokoh tokoh Tasawuf Akhlaqi.

Tasawuf Sunni (akhlaki) yaitu tasawuf yang benar-benar mengikuti Al-qur’an dan Sunnah, terikat, bersumber, tidak keluar dari batasan-batasan keduanya, mengontrol prilaku, lintasan hati serta pengetahuan dengan neraca keduanya. Sebagaimana ungkapan Abu Qosim Junaidi al-Bagdadi: “Mazhab kami ini terikat dengan dasar-dasar Al-qur’an dan Sunnah”, perkataannya lagi: “Barang siapa yang tidak hafal (memahami) Al-qur’an dan tidak menulis (memahami) Hadits maka orang itu tidak bisa dijadikan qudwah dalam perkara (tarbiyah tasawuf) ini, karena ilmu kita ini terikat dengan Al-Qur’an dan Sunnah.”. Tasawuf ini diperankan oleh kaum sufi yang mu’tadil (moderat) dalam pendapat-pendatnya, mereka mengikat antara tasawuf mereka dan Al-qur’an serta Sunnah dengan bentuk yang jelas. Boleh dinilai bahwa mereka adalah orang-orang yang senantiasa menimbang tasawuf mereka dengan neraca Syari’ah.
Tasawuf ini berawal dari zuhud, kemudian tasawuf dan berakhir pada akhlak. Mereka adalah sebagian sufi abad kedua, atau pertengahan abad kedua, dan setelahnya sampai abad keempat hijriyah. Dan personal seperti Hasan Al-Bashri, Imam Abu Hanifa, al-Junaidi al-Bagdadi, al-Qusyairi, as-Sarri as-Saqeti, al-Harowi, adalah merupakan tokoh-tokoh sufi utama abad ini yang berjalan sesuai dengan tasawuf sunni. Kemudian pada pertengahan abad kelima hijriyah imam Ghozali membentuknya ke dalam format atau konsep yang sempurna, kemudian diikuti oleh pembesar syekh Toriqoh. Akhirnya menjadi salah satu metode tarbiyah ruhiyah Ahli Sunnah wal jamaah. Dan tasawuf tersebut menjadi sebuah ilmu yang menimpali kaidah-kaidah praktis.
Tasawuf ini juga dinamakan tasawuf nazhari (teori), demikian, karena tasawuf Islam terbagi kepada nazhari dan amali (praktek). Dan hal ini tidak berarti bahwa tasawuf nazhori ini kosong dari sisi praktis. Istilah teori ini hanya melambangkan bahwa tasawuf belum menjadi bentuk thoreqoh (tarbiyah kolekltif) secara terorganisir seperti toreqoh yang terjadi sekarang ini.  

a.       Al-Qusyairi An-Naisabury[8]
Dialah Imam Al-Qusyary an-Naisabury, tokoh sufi yang hidup pada abad kelima hijriah. Tepatnya pada masa pemerintahan Bani Saljuk. Nama lengkapnya adalah Abdul Karim al-Qusyairy, nasabnya Abdul Karim ibn Hawazin ibn Abdul Malik ibn Thalhah ibnu Muhammad. Ia lahir di Astawa pada Bulan Rabiul Awal tahun 376 H atau 986 M.
Sedikit sekali informasi penulis dapat yang menerangkan tentang masa kecilnya. Namun yang jelas, dia lahir sebagai yatim. Bapaknya meninggal dunia saat usianya masih kecil. Sepeninggal bapaknya, tanggungjawab pendidikan diserahkan pada Abu al-Qosim al-Yamany. Ketika beranjak dewasa, Al-Qusyairy melangkahkan kaki meninggalkan tanah kelahiran menuju Naisabur, yang saat itu menjadi Ibukota Khurasan. Pada awalnya, kepergiannya ke Naisabur untuk mempelajari matematika. Hal ini dilakukan karena Al-Qusyairy merasa terpanggil menyaksikan penderitaan masyarakatnya, yang dibebani biaya pajak tinggi oleh penguasa saat itu. Dengan mempelajari matematika, ia berharap, dapat menjadi petugas penarik pajak dan meringankan kesulitan masyarakat saat itu.
Naisabur merupakan kota yang menyimpan peluang besar untuk perkembangan berbagai macam disiplin ilmu, karena banyak kaum intelektual yang hidup disana. Di kota inilah, untuk pertama kalinya Al-Qusyairy bertemu bertemu Sheikh Abu ‘Ali Hasan ibn ‘Ali an-Naisabury, yang lebih dikenal dengan panggilan Ad-Daqqaq. Pertemuan itu menyisakan kekaguman Al-Qusyairy pada peryataan-pernyataan Ad-Daqqaq. Perlahan, keinginannya mempelajari matermatika pun hilang. Ia pun memilih jalan tarekat dengan belajar dari Ad-Daqqaq. Berawal dari sinilah, Al-Qusyairy mengenal Tasawuf. Al-Daqqaq merupakan guru pertama Al-Qusyairy dalam bidang Tasawuf. Dari ia pula Al-Qusyairy mempelajari banyak hal, tidak hanya terbatas Tasawuf, tetapi juga ilmu-ilmu keislaman yang lain. Al-Qusyairy mampu memahami dengan baik semua pengetahuan yang diajarkan gurunya. Dari sinilah Ad-Daqqaq menyadari kemampuan intelektual Al-Qusyairy. Mungkin, hal ini menjadi salah satu faktor yang mendorong inisiatif Ad-Daqqaq untuk menikahkan putrinya, Fatimah dengan Al-Qusyairy.
Pernikahan ini berlangsung pada antara tahun 405 – 412 H/1014 – 1021 M. Fatimah merupakan wanita ahli sastra dan tekun beribadah. Dari pernikahan ini, lahirlah enam putera dan satu puteri, yaitu; Abu Said Abdullah, Abu Said Abdul Wahid, Abu Mansyur Abdurrahman, Abu Nashr Abdurrahim, Abu Fath Ubaidillah, Abu Muzaffar Abdul Mun’im dan putri Amatul Karim.
Disamping berguru pada mertuanya, Imam Al-Qusyairy juga berguru pada para ulama lain. Diantaranya, Abu Abdurrahman Muhammad ibn al-Husain (325-412 H/936-1021 M), seorang sufi, penulis dan sejarawan. Al-Qusyairy juga belajar fiqh pada Abu Bakr Muhammad ibn Abu Bakr at-Thusy (385-460 H/995-1067 M, belajar Ilmu Kalam dari Abu Bakr Muhammad ibn al-Husain, seorang ulama ahli Ushul Fiqh. Ia juga belajar Ushuluddin pada Abu Ishaq Ibrahim ibn Muhammad, ulama ahli Fiqh dan Ushul Fiqh. Al-Qusyairy pun belajar Fiqh pada Abu Abbas ibn Syuraih, serta mempelajari Fiqh Mazhab Syafi’i pada Abu Mansyur Abdul Qohir ibn Muhammad al-Ashfarayain.
Al-Qusyairy banyak menelaah karya-karya al-Baqillani, dari sini ia menguasai doktrin Ahlusunnah wal Jama’ah yang dikembangkan Abu Hasan al-Asy’ary (w.935 M) dan para pengikutnya. Karena itu tidak mengherankan, kalau Kitab Risalatul Qusyairiyah yang merupakan karya monumentalnya dalam bidang Tasawuf -dan sering disebut sebagai salah satu referensi utama Tasawuf yang bercorak Sunni-, Al-Qusyairy cenderung mengembalikan Tasawuf ke dalam landasan Ahlusunnah Wal Jama’ah. Dia juga penentang keras doktrin-doktri aliran Mu’tazilah, Karamiyah, Mujassamah dan Syi’ah. Karena tindakannya itu, Al-Qusyairy pernah mendekam dalam penjara selama sebulan lebih, atas perintah Taghrul Bek, karena hasutan seorang menteri yang beraliran Mu’tazilah yaitu Abu Nasr Muhammad ibn Mansyur al-Kunduri
Perburuan terhadap para pemuka aliran Asy’ariyah itu berhenti dengan wafatnya Taghrul Bek pada tahun 1063 M. Penggantinya, Alp Arsalen (1063-1092 M), kemudian mengangkat Nizam al-Mulk sebagai pengganti al-Khunduri. Kritik Terhadap Para Sufi Dr. Abu al-Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani, Guru Besar Filsafat Islam dan Tasawuf pada Universitas Kairo, yang juga tokoh dan Ketua Perhimpunan Sufi Mesir (Robithah al-Shufihiyah al-Mishriyah) menulis, Imam Al-Qusyairy mengkritik para sufi aliran Syathahi yang mengungkapkan ungkapan-ungkapan penuh kesan tentang terjadinya Hulul (penyatuan) antara sifat-sifat kemanusiaan, khususnya sifat-sifat barunya, dengan Tuhan. Al-Qusyairy juga mengkritik kebiasaan para sufi pada masanya yang selalu mengenakan pakaian layaknya orang miskin. Ia menekankan kesehatan batin dengan perpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Hal ini lebih disukainya daripada penampilan lahiriah yang memberi kesan zuhud, tapi hatinya tidak demikian. (lihat, Dr. Abu al-Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani, Madkhal ilaa al-Tasawwuf al-Islam, cetakan ke-IV. Terbitan Dar al-Tsaqofah li an-Nasyr wa al-Tauzi, Kairo, 1983)
Dari sini dapat dipahami, Al-Qusyairy tidak mengharamkan kesenangan dunia, selama hal itu tidak memalingkan manusia dari mengingat Allah. Beliau tidak sependapat dengan para sufi yang mengharamkan sesuatu yang sebenarnya tidak diharamkan agama. Karena itu Al-Qusyairy menyatakan, penulisan karya monumentalnya Risalatul Qusyairiyah, termotinasi karena dirinya merasa sedih melihat persoalan yang menimpah dunia Tasawwuf. Namun dia tidak bermaksud menjelek-jelekkan seorang pun para sufi ketika itu. Penulisan Risalah hanya sekadar pengobat keluhan atas persoalan yang menimpa dunia Tasawuf kala itu.
Imam Al-Qusyairy merupakan ulama yang ahli dalam banyak disiplin ilmu yang berkembang pada masanya, hal ini terlihat dari karya-karya beliau, seperti yang tercantum pada pembukaan Kitabnya Risalatul Qusyairiyah.
Karya-karya itu adalah; Ahkaamu as-Syariah, kitab yang membahas masalah-masalah Fiqh, Adaabu as-Shufiyyah, tentang Tasawuf, al-Arbauuna fil Hadis, kitab ini berisi 40 buah hadis yang sanadnya tersambung dari gurunya Abi Ali Ad-Daqqaq ke Rasulullah. Karya lainnya adalah; Kitab Istifaadatul Muraadaats, Kitab Bulghatul Maqaashid fii al-Tasawwuf, Kitab at-Tahbir fii Tadzkir, Kitab Tartiibu as-Suluuki fii Tariqillahi Ta’ala yang merupakan kumpulan makalah beliau tentang Tasawwuf, Kitab At-Tauhidu an-Nabawi, Kitab At-Taisir fi ‘Ulumi at-Tafsir atau lebih dikenal dengan al-Tafsir al-Kabir. Ini merupakan buku pertama yang ia tulis, yang penyusunannya selesai pada tahun 410 H/1019 M. Menurut Tajuddin as-Syubkhi dan Jalaluddin as-Suyuthi, tafsir tersebut merupakan kitab tafsir terbaik dan terjelas
Menurut Syuja’al-Hazaly, Imam Al-Qusyairy menutup usia di Naisabur pada pagi Hari Ahad, tanggal 16 Rabiul Awal 465 H/ 1073 M, dalam usia 87 tahun. Dikisahkan bahwa beliau mempunyai seekor kuda yang telah mengabdi padanya selama selama 20 tahun. Pada saat Al-Qusyairy wafat, kuda itu sangat sedih dan tidak mau makan selama dua minggu, hingga akhirnya ikut mati. Setelah Al-Qusyairy wafat, tak ada seorang pun yang berani memasuki perpustakaan pribadinya selama beberapa tahun. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan bagi al-Imam Radiyallah Ta’ala ‘Anhu. Wallahu a’lam bi al-Showab.

b.      Hasan Al-Bashari (21-110 H)
Beliau adalah seorang zahid yang termashur dikalangan tabi’in beliau digelari dengan Abu Su’id. Ajaran pokoknya adalah zuhud berpola hidup khuf dan raja’

c.       Al-Ghazali (450-550 H)
Nama lengkapnya ialah Abu Hamid Muhammad Bin Muhammad Bin Ahmad Al-Ghazali. Beliau adalah penemu teori ma’rifah (hadral rabubiyah) dan pelopor tasawuf sunni bergelar Hujjatul Islam. Ajaran tasawuf Al-Ghazali ialah : Ma’rifat dan As-saddah.

d.      Al- Muhasibi (165-243 H)
Nama lengkapnya ialah Abu Abdullah Al-Haris Bin Asyid Al-Muhasibi beliau adalah pencipta teori Al-Muhasabah dan Muraqabah.




E.     Manfaat Mempelajari Tasawuf Akhlaqi

Adapun manfaat dalam mempelajari tasawuf akhlaki sebagai berikut :
1.      Seseorang akan dapat memperoleh posisi baik didalam masyarakat.
2.      Akan disenangi orang dalam pergaulan.
3.      Akan terhindar dari hukuman yang sifatnya manusiawi dan sebagai makhluk yang diciptakan Allah.
4.      Orang yang bertakwa dan berakhlak akan mendapatkan pertolongan dan kemudahan dalam memperoleh keluruhan kehidupan dan sebutan yang baik dalam masyarakat. Jasa seseorang yangberakhlak mendapatkan perlindungan dari segala penderitaan dan kesukaran hidup.














BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN


A.    Ajaran  Tasawuf  Akhlaqi
Bagian terpenting dari tujuian tasawuf adalah memperoleh hubungan langsung dengan Tuhan, sehingga merasa sadar berada di “hadirat” Tuhan. Semua sufi berpendapat bahwa satu-satunya jalan yang dapat menghantarkan seseorang kepada kehadirat Allah hanyalah dengan kesucian jiwa. Para sufi berpendapat bahwa untuk merehabilitas sikap mental tidak baim diperlukan terapi yang tidak hanya dari aspek lahiriah
Dan tasawuf akhlaqi, system pembinaan akhlaq disusun oleh beberapa metode yaitu sebagai berikut :
1.      Takhalli (mengosongkan diri dari dari akhlak yang buruk)
2.      Tajalli (terbukanya dinding diri akhlak yang buruk)
3.      Tahalli ( menghiasi diri dengan akhlak terpuji)


B.     Tasawuf Akhlaqi dan Karakteristiknya
Adapun cirri-ciri tasawuf aklaqi :
·         Melandaskan diri pada Al-qur’an dan sunnah
·         Tidak menggunakan terminologi  filsafat sebagaimana terdapat pada ungkapan ungkapan lain.
·         Lebih bersifat mengajar dualism dalam hubungan manusia dengan manusia
·         Kesianbungan syariat lebih terkontrentrasi pada soal pembinaan, pendidikan akhlaq dan pengobatan jiwa dengan riyadhah (latihan mental) dan langkah takhlili, tahalli dan tajali
C.     Tokoh – tokoh Tasawuf Akhlaqi
·         Hasan Al-Basri (21-110 H)
·         AL-Muhasibi (165-243H)
·         Al-Qusyairi (376-465H)
·         Al-Ghazali (450-505H)
Ajaran tasawuf Al-Ghazali :
-          Ma’rifat
-          As-Sa’adah





DAFTAR PUSTAKA



·         Nata M.A,Prof. Dr.H, Abudin. Ilmu Tasawuf.Jakarta : Rajawali Pers.
·          Damanhuri.Akhlak Tasawuf.Banda Aceh : Pena.2010
·         Damanhuri.Akhlak Tasawuf.Banda Aceh : Pena.2005,cet. Pertama
·         Tim Redaksi Departemen Pendidikan Nasional. Ensiklopedi Islam. cet. Kesepuluh, Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, 2002.
·         Nata M.A, Prof. Dr. H. Abudin, Akhlak Tasawuf, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2003, cet. Kelima



[1] Basher,Damanhuri.Ilmu Tasawuf.(Banda Aceh: Pena.2005).hlm.155
[2] Ibid.op.ct.hlm.1
[3] Nata,Abudin.Akhlak Tasawuf.(Jakarta: Rajawali Pers.)hlm.18
[4] Ibid.op.ct.hlm.18
[5] Ibid.op.ct.hlm.19
[6] Damanhuri.Akhlak Tasawuf.(Banda Aceh: Pena.2010)hlm.182-184
[7] Ibid.op.ct.hlm.202-20

[8] Tim Redaksi Departemen Pendidikan Nasional. Ensiklopedi Islam. cet. Kesepuluh, Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, 2002. Hal. 35

2 comments:

Unknown said...

makasih gan sangat membantu untuk pembuatan presentasi tasawuf akhlaki

mexs merly said...

succes.........

Post a Comment