Tuesday, 4 November 2014

PEMENUHAN KEINGINAN DAN DAMPAKNYA TERHADAP SOSIAL EKONOMI





Gara gara semalam ngobrol sama  sahabat ku tentang korupsi hingga dini hari, disela sela kesibukan pagi ku, untuk menyempatkan menulis. Entah kenapa aku rasa nya kesel aja kalo udah bicara soal korupsi karna banyak pihak yang dirugi kan, semoga saja para koruptor koruptor  tersebut dilaknat Allah.  Rezeki yang kita miliki saja ada hak orang lain yang harus kita sedekahkan, infaqkan , dan kita zakatkan. Bagaimana lagi jika memakan hak orang lain. ?????!!!!
Dalam era globalisasi saaat ini manusia di tuntut untuk saling berpacu tak hanya dalam bidang teknologi, namun juga pendidikan, ekonomi, sosial , budaya dan hampir seluruh elemet kehidupan manusia. Barang siapa yang tak kuat mengikuti arus maka ia akan hanyut tersapu  ombak lautan kemajuan.
Masyarakat kita saat ini sudah sangat paham dan mengikuti kemajuan zaman, dan itu lumrah untuk manusia sebagai makhluk berbudaya. Masyarakat mulai terbiasa dengan hidup yang konsumtif termasuk diri kita sendiri munkin. Faktanya masyarakat cendrung memaksakan kemampuannya untuk memiliki barang yang ia inginkan meski ia sadar bahwa ia tidak mampu. Sifat seperti ini telah membawa pengaruh negatif bagi individu tersebut antara lain tamak, rakus, egois, angkuh, sombong dan mendewa kan harta.
Tentu kita tidak naif juga, bahwa kita membutuhkan harta. Perilaku seperti ini sangat berbahaya karna dapat menimbulkan niat untuk seseorang melakukan korupsi . dalam ilmu ekonomi ada 3 aspek yang mempengaruhi perilakU konsumen yaitu :
1.    Efek Ikut Arus (efek bandwagon)
2.    Efek sok
3.    Efek pamer
Inilah yang tak dapat kita pungkiri bahwa aku,kamu atau munkin kita sering atau pernah melakukan efek tersebut. Baik disadari maupun tidak, ada sebagian orang yang memaksakan keadaan untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, munkin dengan kredit pada lembaga keuangan Bank maupun NonBank dan berhutang kepada rentenir. Orang orang seperti ini sangat berbahaya dan orang orang seperti ini sangat berpotensi untuk melakukan tindak pidana korupsi.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi  seseorang untuk melakukan korupsi
Faktor internal
Faktor eksternal
Lemahnya iman
Dirinya sendiri/perilaku individu
Rendahkan kualitas moral/tamak
Pengaruh dari orang lain/organisasi
Gaya hidup/konsumtif
Lingkungan masyarakat/lingkungan kerja
Tidak mau/malas bekerja


Dalam suatu survey dikatakan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan Index korupsi tertinggi didunia. Jika demikian betapa parahnya perilaku konsumtif manusia Indonesia ????
Tentu tidak hanya perilaku konsumtif saja namun ada faktor faktor lainnya. Dan juga korupsi di Indonesia seperti gunung Es.
Faktor ekonomi pada hakikatnya adalah untuk memenuhi hajat hidup manusia akan kebutuhan rumah tangga. Acap kali manusia lupa karna lebih mengutamakan keinginannya (wants) dari pada kebutuhannya (needs). Fenomena yang terjadi saat ini pada masyarakat golongan menengah kebawah yang  pendapatannya cendrung tetap. Mereka justru sangat konsumtif dan terlalu mengikuti trend yang selalu berubah ubah saat ini.
Apakah salah ??? , tentu tidak, namun perilaku seperti ini membuat mereka susah sendiri. Karena untuk mendapatkan apa yang mereka mau dengan pendapatan yang sangat terbatas, mereka harus mendapatkannya dengan cara kredit ke lembaga keuangan, sayang nya…..
Barang yang mereka inginkan adalah barang barang yang tidak terlalu penting dan kebanyakan menjadi mubazir.
Ironis nya banyak pekerja di Intasi pemerintahan yang pendapatannya hanya seberapa rupiah saja setelah di potong kredit dan bahkan ada yang sampai defisit akibat gajinya tidak mencukupi untuk membayar kredit.
Sebenarnya pemberian kredit ini akan jauh lebih bermanfaat  untuk hal investasi agar dapat menstimulasi aliran dana segar (fresh money). Namun tidak salah fonomena beberapa orang mengingikan kredit untuk kebutuhan primer mereka seperti rumah, kendaraan dan lain lain. Maka harus ada kontribusi dari pemerintah untuk terus menambah subsidi bagi penyediaan rumah rakyat dan perbaikan roda transportasi massa.
Akibat dari berkurangnya pendapatan karna di kurangi kredit, ini berpengaruh pada produktivitas para pegawai , karena semangatnya menjadi lesu dan mereka berfikir untuk mencari pendapatan tambahan selain dari seorang pegawai instasi pemerintah. Ini sangat menyakitkan masyarakat yang membayar pajak untuk menggaji para pegawai , karena tidak effektif nya pelayanan publik , mereka jadi malas untuk bekerja. Kalo sudah begini maka timbulah istilah pengangguran terselubung dan niat untuk cepat kaya melalui jalan korupsi.
Tidak ada salah kalo manusia berniat ingin terus maju dan berpacu, namun apabila terlalu memaksakan keadaan dan ketidakmampuan maka akan menjadi bomerang bagi individu itu sendiri. Dalam agama islam Allah juga melarang sikap hidup yang terlalu berlebih lebihan dan bermewah mewahan karna terbukti membawa kemudharatan bagi individu itu sendiri bahkan orang lain bangsa dan negara. Apa tidak boleh orang menjadi kaya ??? boleh boleh saja, tetapi bukan untuk mermegah megahan melainkan untuk kebaikan sosial dan lain lain. Lalu bagaimana cara nya ?? ya jadi pengusaha, berdagang karna itu adalah kendaraan tercepat  menuju kaya bukan dengan jalan menjadi koruptor. Tentu nya dengan niat yang baik dan transaksi transaksi yang dibenarkan secara syara’ maka dengan demikian menjadi ibadah untuk kita.

Ya, kira kira Cuma ini yang aku tulis hari ini semoga bermanfaat bagi pembaca, apabila ada kata kata yang salah atau ada hal yang kurang berkenan, harap maklum yaa, hehehehe
Soalnya aku juga masih anak kemarin sore yang baru belajar yang ilmu nya masih ala kadarnya.heheheheh :D



0 comments:

Post a Comment